wakaf manfaat asuransi syariah

Berbicara mengenai wakaf, berarti membicarakan soal harta kekayaan yang diberikan untuk kepentingan umum. Wakaf erat kaitannya dengan ajaran agama Islam. Ternyata prinsip dalam wakaf juga memiliki prinsip yang sama dengan asuransi syariah sehingga jika digabungkan keduanya bisa berpotensi untuk berkembang karena memberikan penawaran yang menarik bagi umat muslim Indonesia.

Pada dasarnya, harta wakaf harus dikelola oleh nazhir yang digunakan untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan syarat harta wakaf harus tetap utuh nilainya, hanya hasil investasinya saja yang boleh dipergunakan. Itulah mengapa harta wakaf harus diinvestasikan pada kegiatan-kegiatan produktif yang sesuai syariah.

wakaf manfaat asuransi syariah

Harta yang bisa diwakafkan tidak hanya berupa tanah dan bangunan saja, tetapi juga bisa benda bergerak atau uang. Wakaf uang juga sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 mengenai penerimaan dan pengelolaan wakaf uang yang harus diintegrasikan dengan Lembaga Keuangan Syariah (LKS).

Ini menjadi pintu terbuka untuk menggabungkan konsep wakaf dengan asuransi yang berbasis syariah. Terlebih pada 2016 lalu, MUI mengeluarkan fatwa MUI 106/DSN-MUI/X/2016 yang mengatur masalah wakaf manfaat asuransi dan manfaat investasi pada asuransi jiwa syariah.

Dalam konteks ini, perusahaan asuransi syariah berperan sebagai penerima dan pengelola wakaf uang, sekaligus menjadi penyalur hasil investasi. Perusahaan asuransi bertugas layaknya nazhir yang bertugas menjaga dan juga mengembangkan harta wakaf, dengan syarat bahwa dana wakaf yang masuk tidak boleh berkurang nilai nominalnya sedikitpun dan tidak boleh digunakan untuk biaya operasional, biaya klaim, atau untuk apapun itu. Sehingga dana wakaf memang benar-benar bersifat produktif dan menghasilkan manfaat.

Nantinya dana wakaf akan dikelola dalam dua model yaitu tabungan dan bukan tabungan. Perbedaannya adalah, pada pengelolaan model tabungan (saving), dana asuransi akan dimasukkan dalam dua rekening berbeda, untuk tabungan dan tabarru’. Dana pada kedua rekening ini tidak boleh digunakan sebelum diinvestasikan terlebih dahulu. Pada rekening tabungan, dana wakaf dan hasil investasinya tidak boleh diberikan pada peserta (wakif) karena sudah diwakafkan. Sedangkan dana wakaf pada rekening tabarru’, juga harus diinvestasikan terlebih dahulu, hasilnya baru digunakan sebagai dana klaim untuk biaya tolong menolong sesama peserta asuransi. Baik dana tabungan dan tabarru’, nazhir hanya boleh mengambil maksimal 10 persen saja dari hasil bersih pengelolaan dan investasi.

Sedangkan model pengelolaan bukan tabungan (non saving), semua dana wakaf dari peserta dikumpulkan hanya dalam satu rekening tabarru’ saja. Kemudian dana tersebut diinvestasikan pada proyek-proyek produktif yang sesuai sama syariah. Hasil bersih yang didapat dari investasi dana wakaf itulah yang nantinya digunakan sebagai dana klaim untuk saling tolong menolong sesama peserta asuransi.

Bisa terlihat bahwa asuransi syariah dan wakaf sama-sama memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk tolong menolong dan saling membantu untuk meringankan beban dan juga untuk kesejahteraan bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here